KETAPANG – Wajah pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Ketapang kian terkuak. Nama Bos Usman, sosok yang sebelumnya santer disebut terkait aktivitas di wilayah Kemuning Biutak, kini diketahui memiliki kendali jauh lebih besar. Ia diduga menjadi penanggung jawab utama yang mengelola puluhan unit alat berat yang tersebar di berbagai titik penambangan ilegal di daerah ini.
Berdasarkan keterangan seorang warga ketapang yang mengetahui persis seluk-beluk operasi tersebut dan enggan identitasnya dipublikasikan, jangkauan kekuasaan Bos Usman membentang luas. Alat-alat berat yang dikuasainya tidak hanya beroperasi di satu tempat, namun tersebar mulai dari kawasan Danau, Padang Bunga, Sungai Burung, hingga hingga ke wilayah Natai Belian.
“Alat Bos Usman ni banyak bang, dari Danau sampai ke Natai Belian ade jak am alat nye,” ungkap warga tersebut dengan nada yakin.
Narasumber ini mengaku memiliki bukti otentik berupa dokumentasi foto yang membuktikan peran Bos Usman di lapangan. Dalam struktur organisasi lapangan yang ia ketahui, Bos Usman bertindak sebagai pemegang kendali utama atas keberadaan seluruh alat berat tersebut. Sementara untuk urusan teknis pengoperasian ekskavator, tanggung jawab diserahkan kepada orang kepercayaannya bernama Aboy.
“Saye tau bang, karne saye lengkap foto-foto nye. Bos Usman ni sebagai penanggung jawab alat berat dilapangan, kalau penanggung jawab ekskavator nye si Aboy,” imbuhnya.
Penyelidikan awak media kemudian menyinggung soal urusan logistik, khususnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi nyawa bagi jalannya operasi penambangan tersebut. Dari keterangan yang diperoleh, aliran minyak untuk menjalankan puluhan alat berat itu ternyata didatangkan dari luar provinsi, tepatnya dari Kalimantan Tengah.
Pasokan ini diketahui dikelola oleh dua nama yang sangat dikenal di kalangan pengusaha minyak di Ketapang, namun hingga kini beroperasi tanpa gangguan berarti. Narasumber menyebut inisial nama mereka sebagai “AJN”dan “HS” – yang akrab disapa “TL”
“Minyak ni asal nye dari Kalteng bang, dari “AJN”. Koordinator lapangan untuk ngurus minyak tu si “HS” yang biase di panggil “TL”. Abang pun pasti dak asing dengar name itu, cume dak tersentuh APH die bang, jaringan nye kuat,” ungkapnya seraya menegaskan betapa kokohnya perlindungan yang dimiliki jaringan tersebut.
Sosok Bos Usman sendiri diketahui bukanlah warga asli Ketapang, melainkan pendatang asal Singkawang. Ia digambarkan sebagai sosok yang sangat tertutup dan penuh kewaspadaan tinggi. Dalam setiap pergerakannya di lokasi tambang, ia selalu berusaha menyembunyikan identitas.
“Bos Usman tu bukan orang Ketapang bang tapi orang Singkawang. Terkait foto nye yang mane, die datang selalu pakai masker, jadi dak pernah nampilkan wajah nye. Bos besar nye die bang, punye hubungan gak am dengan para APH nyan,” ujarnya dengan logat khas daerah, menyiratkan dugaan kuat adanya keterkaitan istimewa antara Bos Usman dan jaringannya dengan pihak Aparat Penegak Hukum (APH).
Kondisi ini tentu memicu kekhawatiran sekaligus harapan besar dari masyarakat. Warga menuntut agar aparat berwenang segera bertindak tegas dan tuntas. Keberadaan tambang ilegal yang dikelola jaringan luar daerah dengan jangkauan luas, aliran dana besar, dan dugaan perlindungan ini dinilai sudah sangat merajalela dan meresahkan ketertiban serta kelestarian alam di Kabupaten Ketapang.
Red:Jk













